www.maslamahmediamandiri.com

Live Talk,

Learn More, More See

 

Menulis Buku Anak

Dian Onasis : Penulis dan Mentor Menulis

 

Hari : Rabu, 15 September 2021

Pukul : 19.30

WAG Alumni Kelas Menulis 3M

 

Sebelum kita memulai lebih jauh membahas mengenai cara menulis cerita anak, kita akan perkenalan terlebih dahulu. Apa sebenarnya buku cerita anak? Harapannya, jika sudah mengetahui dan memahami konsep dasarnya, maka kita akan tau apa yang akan kita tulis. Bisa saja kita nekat untuk menulis, hal itu tidak menjadi masalah. Namun, hasil akhirnya belum tentu bisa sampai ke pembaca di luar anak kita sendiri.

Berdasarkan bacaan dan pengalaman yang ada, maka unsur-unsur utama dalam menentukan apakah sebuah buku itu adalah buku bacaan anak, maka yang dibutuhkan adalah :

  1. Ditulis berdasarkan pengalaman atau imaginasi.
  2. Ditulis oleh penulis dewasa. Jika ada yang menulis itu anak-anak, maka harus didampingi oleh orang dewasa untuk mengarahkan hal terkait isi maupun teknis menuliskannya.
  3. Mengikuti perkembangan emosi anak, tidak sekedar menghibur saja.

Berdasarkan sastra, maka buku anak yang dituliskan berdasarkan imaginasi, disebut buku anak fiksi, kemudian yang berdasarkan data atau referensi dari kenyataan, dikenal sebagai buku anak non fiksi dan satu lagi buku yang menggunakan rima dan pola tersendiri yang bukan prosa, maka dinamakan buku anak puisi

Selama parade menulis cerita anak, kita menentukan target pembaca adalah usia 6 hingga 12. Namun, jika melihat jenis naskah yang masuk dalam audisi di sini, kita rata-rata memilih target pembaca ada pada pembaca lanjut, yakni kisaran usia 8 tahun hingga sebelum 12 tahun. Penting untuk mengetahui jenjang pembaca mana yang akan kita jadikan target pembaca. Ini terkait kemampuan anak-anak yang jadi pembacanya. Apakah kelak bisa memahami buku kita. Sekaligus juga kita penulis harus tau apa saja yang perlu dipertahankan jika menulis sesuai jenjang keterbacaan ini.

Berikut adalah cara yang paling dasar dan umum diterapkan saat kita hendak menuliskan sebuah cerita anak, baik dia cerpen, cerbung, kumcer, picbook hingga novel.  Ada lima cara menggali ide yang biasanya digunakan. Antara lain berdasarkan benda di sekitar kita, lalu berdasarkan pengalaman masa lalu atau anak-anak serta catatan harian, kemudian melihat foto atau gambar, membaca banyak buku, melakukan dice generator atau membuat table karakter, kata pembuka dan konflik atau unsur lain yang bisa diacak, terakhir Latihan dengan pola ATM ( Amati Tiru dan Modifikasi)

Jangan lupa membuat karakter dalam tiga dimensi, yakni fisik, psikologisnya dan lingkungan. Pastikan karakter benda atau tokoh anak yang digunakan sangat khas atau unik, sehingga cerita itu tidak akan bisa berjalan jika tokohnya bukan yang khusus untuk jalan cerita itu. Misalnya, karakter Nusa dengan adanya kekurangan fisik, maka akan terbentuklah karakter internal atau psikologisnya, dimana Nusa menjadi anak lebih sabar dan patuh, dan lingkungannya juga unik  karena dibesarkan oleh ibunya saja dan ayahnya kerja jauh. Kondisi karakter yang unik seperti ini akan memberikan warna saat menuliskan plot cerita dan bergerak maju alurnya.

Jika telah memiliki premis (yang terdiri dari 1 atau 2 kalimat yang ada karakter, tujuan dan motivasi serta halangan) maka tugas kita adalah memberikan karakter tersebut BME atau beginning middle dan ending. Ini akan memudahkan kita terhindar dari unsur tiba-tiba dalam cerita, serta mampu mengatasi mood dan writers block, karena BME ini dapat dipreteli menjadi outline (jika menulis kumcer dan novel).

Jika sudah ada ide, premis, BME dan outline, maka sudah waktunya kita menulis hingga tamat. Perhatikan selalu, pada umumnya, naskah on going (yang ditulis selama parade bukan, bukan naskah yang sudah siap) adalah naskah draft pertama. Maka jangan lupa untuk menguatkan naskah kita agar tidak bolong logika dan terburu-buru menulisnya, dengan menyiapkan mental mengeditnya atau bahkan menulis ulang. Pekerjaan menulis itu terbagi menjadi dua. Pertama, menulis menggunakan hati, maka jadilah draft pertama yang dijamin jauh dari sempurna baru kemudian Kedua, mengeditlah dengan teknis dan logika. Dan bagian mengedit inilah musuh penulis yang sebenarnya. Bisa jadi rasa malas, rasa egois, rasa tak memperdulikan perasaan pembaca jika baca tulisan yang asal dan banyak. Itulah kenapa self editing dibutuhkan, namun lebih penting lagi adalah kita edit substansi terlebih dahulu baru crafting, lalu PUIBE dan akan lebih baik jika ditemani atau didampingi editor saat menuntaskan perbaikan naskah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mulai menuliskan naskah. Mulai dari prinsip Latihan show not only tell. Kemudian kalimat pembuka juga harus menarik perhatian serta eksplore kisah menggunakan panca indra karakter. Setelah menulis sampai kata tamat, maka lakukan tiga hal ini setelah diendapkan beberapa hari. Yakni, revisi jika ada plot hole, lalu cek typo, kemudian baca nyaring atau dibacakan pada anak-anak baru kemudian sederhanakan kata-kata, jika perlu cek ulang naskah. Baru setelah itu kirim.

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us