Hi! Saya tahu ini terdengar sangat “lawas” dan klise karena di mana-mana sudah banyak sekali yang menuliskan tentang ini, selain itu pelatihan dan kelas-kelas public speaking sudah berjamur di mana-mana. Ikut pelatihan? Nggak salah. Ikut seminar motivasi? Nggak salah juga. Dengerin motivator? Nggak juga salah. Tapi, yang kadang kita nggak sadari, kita terlalu menggantungkan kemampuan kita sama mereka yang melatih kita, sama mereka yang sudah profesional di bidangnya, akhirnya saat kita ikut pelatihan, yang ada di kepala kita adalah “Ah pasti abis ngomong ni abis ikutan ini,” “Udah dilatih sama dia mah pasti bisa.”Akhirnya kita lupa menggantungkan apa yang kita mau sama diri kita sendiri.
Tanpa disadari ada beberapa hal dalam hidup ini, yang bukan hanya membutuhkan pelatihan atau kursus, tapi juga jam terbang. Hanya saja kadang kita sebagai manusia yang terlalu merasa biasa saja mengabaikan kemampuan luar biasa kita dari Allah, SWT. Untuk yakin sama diri sendiri, sebagaimana orang biasa, kita tetep butuh dong beberapa teori untuk memulainya, berikut caranya:
1. Berbicara.
Lah kok bicara? Gimana sih? Tapi nggak boong ini serius beneran. Gimana ceritanya orang yang nggak pernah mau bicara di depan umum tiba-tiba nanyain gimana caranya kok bisa ngomong di depan banyak orang?
Bicara aja dulu di skala terkecil, mulai dari temen setongkrongan, presentasi makalah dalam kelas, atau sekadar bertukar pikiran dengan teman sebaya. Mau bicaranya ngawur, ya nggak papa. Itu kuncinya, bicara aja dulu.
2. Tahu mau ngomong apa.
Setelah terbiasa bicara, mulailah sedikit demi sedikit mengonsep apa yang mau dibicarakan. Kalau perlu mulai dengan meniru apa dan bagaimana orang-orang berbicara. Biasanya, setelah kita mengikuti berbagai macam cara orang-orang berbicara, lama kelamaan akan muncul karakter kita dalam berbicara atau kita bisa mengombinasikan dari sepuluh orang yang kita ikuti karirnya menjadi diri kita.
3. Jangan pedulikan dulu apa kata orang alias harus yakin bahwa salah itu nggak salah.
Jangan pernah melihat mereka yang sudah menjadi pembicara ulung hanya saat ini saja. Siapa yang tahu bagaimana mereka belajar? Siapa yang tahu bahwa mungkin masa lalu mereka dalam memupuk keberanian untuk berbicara di depan orang banyak jauh lebih berat dibandingkan dengan kita. Kita tarik ulur ke beberapa tahun belakang, “Apakah mereka bisa begitu saja piawai seperti sekarang?” “Apakah mereka bisa dengan sekejap seperti sekarang.” “Berapa banyak kesalahan yang mereka lakuin saat ngomong di depan?” “Berapa kali mereka diberhentikan saat mengisi seminar hanya karena peserta seminarnya mereasa lebih lintar dan leboh tua?”
Nah, tahun-tahun yang berat itu mereka lalui dengan proses yang begitu panjang, maka tanamkan dalam diri bahwa dua atau tiga tahun lagi kita bisa seperti mereka. Karena seberapa jauh pun kita tertinggal tak akan pernah ada yang menanyakan kapan kita baru bisa asalkan kita mau segera memulai.

4. Isi kepala.
Mau mendapatkan air dari sebuah teko? Bisa, asalkan tekonya berisi, bisa jadi teh, kopi atau susu bahkan air putih. Begitu juga dengan berbicara, berbicara adalah proses menuangkan, mencurahkan, mengemukakan ide dan gagasan atau sederhananya ngomongin apa yang bergemuruh di kepala kita, maka bagaimana mungkin kita bisa berbicara kalau kepala kita saja tak ada isi?
Bagaimana mengisinya? Banyak caranya, bisa dari mendengarkan, mengopy paste pembicaraan orang, membaca buku, melihat keadaan, mendegarkan keluhan, dan membaca keadaan sekitar. Kita tinggal menyesuaikan ingin berbicara apa dengan apa yang kita isi ke kepala kita.
5. Terus berlatih dan perbanyak jam terbang.
Belajar mengendarai mobil tak cukup mengerti teori, harus praktik. Setelah praktik tak cukup sekali dua kali mengendarai mobil, harus intens, jam terbang harus banyak barulah terbiasa untuk mengukur badan mobil dan parkir. Begitupun dengan berbicara. Butuh jam terbang, kebiasaan, keuletan dalam diri dan tentu saja konsistensi dan pantang menyerah.
“Saya kan nggak ada yang ngundang untuk berbicara?” “Saya kan nggak ada orang yang nyuruh ngomong di depan orang, masa tiba-tiba mengajukan diri?”
Untuk urusan undang mengundang itu hal lain, hal itu akan berbarengan dengan perbaikan kualitas dan jenama diri yang dibangun. Tapi, itu bukan alasan. Banyak media yang bisa kita buat untuk melatih diri dan memperbanyak jam terbang. Ada youtube, insta story, ig tv bahkan yang sekarang sedang banyak digandrungi adalah podcast. Semuanya bisa menjadi media pembelajaran yang baik untuk meningkatkan kualitas diri.
6. Percaya dan yakin akan kemampuan diri sendiri.
Untuk yang terakhir ini tak ada deskripsi dan narasi seperti nomor-nomor sebelumnya, karena jawabannya ada pada diri kita sendiri, just believe!
Penulis : Sofwatillah
Bisa dihubungi lewat :
Instagram : sofwatillah_
Twitter : @sofwat_amin
Facebook : Sofwa Amin
Emai : sofwatillahs20@gmail.com
Podcast : Persepsi Lain