Kemajuan teknologi ibarat pisau bermata dua, satu sisi mampu menginspirasi, namun sisi lainnya akan menghadirkan bully. Kita semua pernah menjadi “korban kehidupan” tekanan bukan hanya dari realita hidup namun dari kehidupan maya yang tanpa batas. Terluka dan menjadi mudah marah, bawa perasaan menjadi karakter yang akrab di era millennial ini. Bukan sekali dua, para public figure mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena depresi dan tidak kuat kecaman hater dan kebencian yang ditularkan melalui sosial media.

Kehidupan pada dasarnya memberikan kita rupa-rupa rasa, termasuk rasa yang tidak nyaman dan berbagai tekanan. Namun, kita jarang menyadari, bahwa diri kita memiliki kemampuan terapeutik, yaitu suatu usaha untuk menyembuhkan diri sendiri. Proses penyembuhan ini dimulai dengan tahapan resilien atau penerimaan. Menerima bahwa segala ketidaknyamanan dalam hidup mampu menguatkan dan memberikan pelajaran yang tidak diajarkan oleh siapun kecuali oleh masalah itu sendiri.

Hari ini, cara termudah untuk menghealing diri sendiri, yaitu dengan metode menulis. Menulis bukan hanya menguatkan ingatan, namun juga mampu menyembuhkan diri, proses pemulihan dengan menulis adalah sebuah upaya untuk mendesain ulang bawah sadar seseorang agar memiliki pemahaman atas masalah yang ia hadapi.

Karena ini merupakan sebuah terapi, maka sangat tidak mungkin jika hanya dilakukan dalam sekali waktu saja. Kegiatan healing dengan menulis ini dapat dirasakan manfaatnya Ketika dilakukan minimal selama 21 hari bahkan lebih. Kegiatan menulis (menulis dengan tangan) minimal 10 sampai dengan 20menit setiap hari, dengan mengungkapkan semua lelah, kecewa, dan energi negatif lainnya melalui tulisan. Cara penulisan terapi ini pun harus dilakukan secara eksprsif, sehingga luka-luka yang pernah tersimpan di masalalu tidak menjadi sampah di area sub concious seseorang.

Kegiatan menulis yang dilakukan dengan rutin, bukan hanya mampu menghadirkan ketenangan, tapi mampu membuat kita lebih mengenali diri, sehingga sesulit apapun masalah yang menghampiri, maka selalu ada jiwa yang tenang dalam menghadapinya.

Teknologi dipastikan akan semakin berkembang, untuk itu generasi Indonesia harus bersiap dengan kematangan mental. Menulis untuk hari ini dan esok, menulislah untuk kebahagiaan.

Aida MA
Penulis dan Praktisi Writing Healing Therapy

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us